Thursday, June 7, 2018

BAB 4 USULAN PELESTARIAN

  Dari pengamatan yang saya amati di Kota Tua, ada beberapa hal yang menjadi pokok masalah dan patut dibahas agar pelestarian kota tua menjadi lebih terawat lagi. Tapi sebelum membahas pelestarian dalam kondisi kawasan bangunan kota tua. Ada beberapa hal yang patut diapresiasi, salah satunya adalah dengan Tidak mengubah sama sekali bentukan gaya bangunan secara total dan tetap menggunakan fasad yang ada tetapi diperbaharui kembali dengan menambah fasilitas yang mendukung pola kegiatan dan aktivitas pengunjung dan juga wisatawan




Tetapi ada beberapa hal yang patut dipersoalkan dalam penataan kawasan site. Salah satunya adalah kurangnya maintenance atau perawatan intensif pada beberapa kondisi bangunan yang merupakan warisan budaya jakarta. Ini juga penting mengingat cerminan sejarah yang ada di suatu kawasan publik harus mendukung semua komponen yang membuat para pengunjung menjadi nyaman. Selain itu juga kurang tersedianya titik2 spot tempat pembuangan sampah sehingga rawan lingkungan sekitar menjadi kotor karena pada sore hari sering digunakan oleh pedagang untuk berjualan disekitar alun alun kawasan fatahilah


Dari beberapa usulan diatas perlu adanya kesadaran yang tinggi antara pemerintah dan pengunjung atau wisatawan sehingga kawasan kota tua tetap menjadi objek wisata yang menarik. Selain itu perlu adanya penataan kawasan secara berkala dengan mempertimbangkan kondisi yang ada apakah mampu memiliki nila sejarah yang mampu mendorong wisatawan dan pengunjung menjadi teratrik untuk mempelajarinya

BAB 3 GAMBARAN KAWASAN


3.1 KAWASAN SITE PLAN


        Kawasan kota tua seperti yang dapat kita lihat merupakan sarana objek pariwisata yang cukup dekat dengan beberapa aksesbilitas penunjang seperti shelter transportasi ojek online , bis trans khusus pariwisata dan juga KRL Jabodetabek yang berpusat di stasiun jakarta kota.

           Kawasan jakarta kota mengalami tingkat kepadatan yang berbeda beda tergantung jam sibuk dan juga hari libur. Intensitas keramaian paling sering terjadi saat hari menjelang sore sekitar jam 3 pada hari sabtu dan minggu. Sementara pada hari biasa jumlah pengunjung dan wisatawan cenderung sedikit terlebih lagi pada siang hari.


        Selain itu sisi sirkulasi menuju lebih mudah diakses dari selatan site karena jalan yang ditempuh lebih memudahkan bagi wisatawan yang menggunakan transportasi KRL dari wilayah sekitar jakarta lain


         kawasan kota tua terbagi menjadi beberapa kawasan yaitu museum keramik,museum sejarah , alun alun kota tua , batavia cafe, museum wayang dan bangunan pendukung yang ada disekitranya. bentuk pola bangunan yang ada memusat dan mengedepankan sisi sejarah dan penataannya yang dulunya merupakan khas peninggalan Belanda

3.2 ZONING WILAYAH 
      A. WILAYAH CAFE BATAVIA






 B. WILAYAH MUSEUM WAYANG





 C. ALUN ALUN TAMAN FATAHILLAH







Wednesday, June 6, 2018

BAB 2 TELAAH PUSTAKA




2.1 PENDAHULUAN
2.1.1 Latar Belakang Masalah
            Objek bangunan peninggalan zaman Belanda sangat banyak dan tersebar merata di beberapa pusat kota besar di Indonesia salah satunya adalah Jakarta. Di daerah Jakarta sendiri terdapat suatu kawasan sejarah yang sangat sacral yaitu Kota tua. Sebagai penulois saya tertarik dengan pembahasan ruang lingkupnya yang bisa menjadi daya Tarik tersendiri terlebih lagi lokasi nya yang berada dalam lokasi yang cukup strategis bagi pengunjung untuk menikmati dan melihat peninggalan sejarah Belanda tersebut
2.1.2 Perumusan Masalah
            Dari pengamatan ruang lingkup landscape mengenai kota tua di Jakarta, memuat beberapa permasalahan melalui pertanyaan seperti berikut :
a.       Apakah pengaruh jumlah pengunjung terhadap kawasan Kota Tua dan lingkungan yang ada disekitarnya
b.      Bagaimana cara kita dalam melestarikan peninggalan sejarah yang ada didalam kawasan kota kua?
c.       Hal apa saja yang dapat membuat suatu kawasan sejarah menjadi menarik bagi pengunjung dan wisatawan
2.1.3 Batasan Masalah
Batasan Masalah dalam penelitian ini yaitu penulis akan melakukan pengamatan mengenai ruang lingkup kawasan sejarah kota tua dan bagaimana cara menjaga dan melestarikannya agar menjadi lebih menarik lagu
2.1.4  Tujuan Penelitian

            Tujuan penulis melakukan penelitian adalah sebagai berikut

a.       Membagikan informasi dan pengeathuan bagi pengunjung tentang kawasan yang ada di kota tua
b.      Mengidentifikasi masalah masalah yang menyebabkan suatu kawasan sejarah tidak menarik lagi bagi pengunjung
c.       Menjadi objek pembelajaran bagi penulis dalam menganalisa suatu kawasan sejarah

2.1.5  Manfaat Penelitian
a)      Penulis dapat memberikan informasi bagi seluruh pengunjung dan mempelajari kembali pentingnya suatu sejarah
b)      Penulis menjelaskan mengenai hal hal apa saja yang dianggap menarik pada kawasan itu bagi pengunjung

2.2 TINJAUAN PUSTAKA
2.2.1 Tinjauan pustaka merupakan penelusuran kepustakaan untuk mengidentifikasi makalah dan buku yang bermanfaat dan ada hubungannya dengan penelitian yang dilakukan serta merujuk pada semua hasil penelitian terdahulu pada bidang tersebut. Tinjauan pustaka disusun berdasarkan tujuan penelitian, pertanyaan penelitian dan masalah yang akan dipecahkan. Sumber yang dipakai dalam tinjauan pustaka harus disebutkan dengan mencantumkan nama penulis dan tahun terbit dengan model Vancouver. Format penyajiannya dimulai tinjuan teori untuk variabel independen, variabel dependen dan keterkaitan antar variabel yang diteliti dengan mengacu pada penelitian sebelumnya.
2.2.2 Landasan Teori
Landasan teori menguraikan kerangka teori yang merujuk pada referensi berbagai ahli tertentu maupun berbagai teori-teori yang ada yang nantinya akan mendasari hasil dan pembahasan secara detail, dapat berupa definisi-definisi atau model matematis yang langsung berkaitan dengan tema atau masalah yang diteliti. Teori-teori yang dirujuk harus mengacu pada variabel-variabel yang diteliti. Dimulai dari penjelasan tema, variabel independen dan variabel dependennya atau faktor-faktor yang diteliti serta dijelaskan teori-teori tersebut untuk mendukung hipotesis yang akan diajukan.      

2.2.3 Kerangka Teori
Kerangka teori terdiri dari teori-teori atau isu-isu dimana penelitian kita terlibat di dalamnya dan memberikan panduan pada saat peneliti membaca pustaka.Kerangka teori tidak dapat dikembangkan kalau peneliti belum mempelajari pustaka dan sebaliknya kalau peneliti belum mempunyai kerangka teori maka peneliti tidak akan dapat membaca pustaka dengan efektif.
2.2.4 Kerangka Konsep Penelitian
Kerangka konsep penelitian merupakan operasionalisasi keterkaitan antar variabel-variabel yang berasal dari kerangka teori dan biasanya berkonsentrasi pada satu bagian dari kerangka teori. Kerangka konsep menggambarkan aspek-aspek yang telah dipilih dari kerangka teori untuk dijadikan dasar masalah penelitiannya. Jadi kerangka konsep timbul dari kerangka teori dan berhubungan dengan masalah penelitian yang spesifik.
2.2.5 Hipotesis
Hipotesis memuat : pernyataan singkat yang disimpulkan dari landasan teori atau tinjauan pustaka dan merupakan jawaban sementara terhadap masalah yang dihadapi. Hipotesis tidak selalu harus ada tergantung pada jenis dan tujuan penelitian. Oleh karena itu hipotesis harus diuji kebenarannya dan pengujiaannya harus mendasarkan pada kaidah-kaidah keilmuan (scientific methods) yang dapat dipertanggungjawabkan.

2.3 METODE PENELITIAN
2.3.1 Jenis Penelitian
Berisi langkah-langkah yang akan diambil untuk membuktikan kebenaran hipotesis.
2.3.2 Populasi dan Sample
Berisi cara pengambilan sample, besar sample, cara pengumpulan sample, teknik penarikan sample.
Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian atau wilayah generalisasi yang terdiri dari subyek maupun obyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan. Populasi bukan hanya orang, tetapi semua benda yang memiliki sifat atau cirri yang bisa diteliti.
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut
2.3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Berisi mengenai tempat / lokasi penelitian beserta waktu yang dipergunakan melakukan penelitian
a.      Variabel
Berisi keterangan tentang variable atau factor yang diamati atau diteliti dalam suatu penelitian
b.      Definisi Operasional
Menjelaskan bagaimana suatu variable akan diukur serta alat ukur apa yang digunakan untuk mengukurnya. Definisi ini mempunyai implikasi praktis dalam proses pengumpulan data. Definisi operasional mendiskripsikan variable sehingga bersifat spesifik (tidak berintegrasi ganda), terukur, menunjukkan sifat atau macam variable sesuai dengan tingkat pengukurannya dan menunjukkan kedudukan variable dalam kerangka teoritis.
c.       Teknik Pengumpulan Data
Berisi cara pengumpulan data yang dapat berupa data primer maupun data sekunder. Berdasarkan caranya pengumpulan data dapat berupa observasi, wawancara langsung, angket, pengukuran / pemeriksanaan
d.      Instrument Penelitian
Instrument ( alat ukur ) penelitian dapat berupa kuesioner, cek list yang digunakan sebagai pedoman observasi dan wawancara atau angket
e.       Teknik Pengolahan Data
Berisi cara pengolahan data yang akan dilakukan peneliti sehingga data hasil penelitian dapat menjadi informasi yang dapat digunakan untuk mengambil kesimpulan penelitian
f.       Metode Analisis Data
Metode analisa data menjelaskan bagaimana seorang peneliti mengubah data hasil penelitian menjadi informasi yang dapat digunakan untuk mengambil kesimpulan penelitian. Kegiatan analisa data ini meliputi : persiapan, tabulasi dan aplikasi data. Pada tahap analisa data inidapat menggunakan uji statistik jika memang data dlam penelitian tersebut harus diuji dengan uji statistik
g.      Keterbatasan
Dalam setiap penelitian pasti mempunyai kelemahan-kelemahan dimana kelemahan tersebut ditulis dalam keterbatasan. Dalam bab ini disajikan keterbatasan peneliti secara teknis yang mungkin mempunyai dampak secara metodologis maupun substantif, seperti : keterbatasan pengambilan sampel, keterbatasan jumlah sampel, keterbatasan instrumen penelitian, keterbatasan waktu dan sebagainya
h.      DAFTAR PUSTAKA
Daftar Pustaka merupakan keterangan tentang bacaan yang dijadikan sebagai bahan rujukan dari penulisan skripsi. Dalam daftar pustaka dapat dimasukkan tentang pustaka dari buku teks, jurnal, artikel, internet atau kumpulan karangan lain.

Thursday, March 29, 2018

BAB 1 Penelitian tata letak dan pelestarian budaya di kota tua


BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 SEJARAH KAWASAN KOTA TUA
            Kota Tua Jakarta terletak diantara dua kotamadya yaitu Jakarta Barat dan Jakarta Utara, tepatnya di Kelurahan Pinangsia Kecamatan Tamansari. Posisinya yang strategis membuatnya mudah disinggahi kala itu. Bahkan berbagai kerajaan turut memperebutkan kekuasaan di kawasan ini. Berikut ini adalah ulasan mengenai sejarah Kota Tua Jakarta dari masa ke masa. Kota Tua Jakarta adalah nama dari sebuah gedung yang tepatnya berada di Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Tamansari,

                          


 Perbatasan posisi lokasi zaman batavia antara lain :
·                     Sebelah Timur, berbatasan dengan Kali Ciliwung
·                     Sebelah Barat, berbatasan dengan Kali Krukut
·                     Sebelah Selatan, berbatasan dengan Jalan Jembatan Batu
·                     Sebelah utara, berbatasan dengan Pelabuhan Sunda Kelapa dan Laut Jawa

            Lokasi Kota Tua yang strategis tersebut akhirnya menimbulkan perebutan kekuasaan wilayah. Mulai dari Kerajaan Pajajaran, Kerajaan Tarumanegara, Kesultanan Banten, VOC, hingga Jepang dulu turut memperebutkannya. Kota Tua Jakarta dikenal pula dengan sebutan lamanya yaitu “Oud Batavia” atau Batavia lama. Seperti yang kita ketahui bahwa Batavia dulu juga merupakan nama untuk kota Jakarta sekarang. Wilayah Kota Tua yang luasnya sekitar 1,3 km2 ini dulunya sempat disebut sebagai “ Permata Asia” serta “Ratu Dari Timur’’. Wilayah ini merupakan pusat perdagangan yang sangat strategis di Asia   

            Saat ini Kota Tua Jakarta lebih dikenal sebagai bangunan kuno sebagai ikon ibu kota negara Indonesia. Berbagai kegiatan dilakukan di kawasan ini saat HUT kota Jakarta atau event bersejarah lainnya untuk mengenang perjuangan pada masa lalu. Biasanya yang seringkali ditampilkan adalah beberapa event pameran, pertunjukan seni yang memang didukung oleh arsitektur bangunan yang memiliki nilai artistik tersendiri ini. Berbagai pertunjukan yang sering diadakan di lokasi ini antara lain adalah sebagai berikut.

Kegiatan yang biasa diadakan pada wilayah kota tua diantaranya adalah
·                     Pameran Sejarah Jakarta
·                     Pameran Kebudayaan Betawi
·                     Pameran Lukisan dari seniman lokal Betawi
·                     Pagelaran Seni Lenong Khas Betawi
·                     Penghelatan Akbar untuk Mengenang Sejarah Kota Tua



            Satu tahun berlalu setelah kedatangan Jan Pieterszoon Coen, VOC membangun sebuah kota baru ditanah ini yang bernama Batavia untuk menghormati leluhur bangsa Belanda, Batavieren. Kota ini berpusat di tepian timur sungai Ciliwung yang saat ini menjadi Lapangan Fatahillah, penduduk Batavia dikenal dengan sebutan “Batavianen” atau etnis “Betawi” yang merupakan keturunan berbagai etnis yang tinggal di Batavia
.          


            Pada tahun 1653, kota ini meluas hingga mencapai tepi barat Sungai Ciliwung,reruntuhan bekas Jayakarta. Kota Batavia dirancang dengan segalanya bergaya Belanda Eropa, lengkap dengan Kasteel Batavia, kanal dan juga dinding kota. Kanal yang dibuat tersebut dimanfaatkan juga oleh pemerintahan masa itu untuk membatasi kota yang diatar dalam beberapa blok, yang hingga akhirnya kota Batavia selesai dibangun pada tahun 1650an.

            Tidak lama berselang, Batavia menjadi kantor pusat VOC pada saat itu dan meluas hingga ke selatan setelah epidemi (meningkatnya wabah penyakit dengan cepat)tahun 1835 dan 1870, yang membuat banyak orang keluar dari kota kecil itu menujuWeltevreden (sekarang Lapangan Merdeka), kemudian Batavia menjadi daerah pusat administratif Belanda.Pada tahun 1942, semasam penjajahan Jepang, Batavia berubah nama menjadiJakarta yang tetap difungsikan sebagai Ibu kota Indonesia, hingga saat ini. Sejarah kota tua dalam bahasa inggris lebih mudah dicari dengan sebutan “Oud Batavia” atau “Jakarta Old Town”.


 
1. Museum Fatahillah        
Pada masa penjajahan Belanda, gedung ini difungsikan sebagai balai kota yang pada waktu itu dikenal dengan nama Stadhius. Selain balai kota, pernah juga difungsikan sebagai pengadilan, kantor catatan sipil, tempat ibadah Minggu, dan tempat Dewan Kotapraja. Di tahun 1968, barulah gedung ini secara resmi diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta. Setelah itu gedung ini diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta pada tanggal 30 Maret 1974 oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin. Museum Fatahillah menyimpan sekitar 23.500 koleksi barang bersejarah berupa benda asli maupun hanya replika. Koleksi tersebut berasal dari Museum Jakarta Lama yang terletak di Jl. Pintu Besar Utara No. 27. Di museum ini, kamu bisa melihat beberapa koleksi seperti replika peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, hasil penggalian arkeologi di Kota Jakarta, furnitur-furnitur antik, koleksi keramik, gerabah, prasasti, dan deretan benda bersejarah lainnya. Selain itu, di dalam Museum Fatahillah juga terdapat penjara bawah tanah yang menjadi saksi bisu penderitaan dari para tawanan yang kondisinya sangat menyedihkan.
 
2. Pelabuhan Sunda Kelapa

Di tempat inilah awal mula kota Jakarta dikenal luas oleh dunia. Banyak orang asing yang datang ke Indonesia melalui Pelabuhan Sunda Kelapa. Sekitar abad ke 12, banyak pedagang dari Tiongkok yang berlayar ke sini dengan membawa barang kerajinan berupa keramik dan kain sutera untuk ditukarkan dengan rempah-rempah. Pedagang dari India dan Arab pun datang ke sini dengan membawa kain dan minyak wangi yang juga ditukarkan dengan rempah-rempah. Hubungan dagang dengan tiga negara ini berjalan baik sampai abad ke-16.Atas dasar inilah, Pelabuhan Sunda Kelapa berhasil mencetak sejarah emas. Pelabuhan ini menjadi pusat perdagangan yang sangat ramai dengan aktivitas jual beli antar negara. Saat ini aktivitas pelabuhan memang tak seramai dulu. Meskipun begitu, tempat ini masih digunakan dan beroperasi sebagai dermaga transportasi laut.

3. Museum Bank Indonesia 



Tempat ini awalnya merupakan sebuah rumah sakit bernama Binnen Hospital yang kemudian pada tahun 1828 dialihfungsikan menjadi bank dengan nama De Javashe Bank (DJB). Setelah kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada tahun 1953, bank ini dinasionalisasikan menjadi Bank Sentral Indonesia atau yang dikenal dengan nama Bank Indonesia.Namun, di tahun 1962, Bank Indonesia kemudian dipindah ke gedung baru. Gedung lama kemudian dilestarikan menjadi Museum Bank Indonesia yang diresmikan pada 15 Desember 2006.Saat berkunjung ke sini, kita akan mendapat pengetahuan tambahan mengenai sejarah terbentuknya bank sentral yang ada di negara kita ini.       


Ketika memasuki lobi museum, kita akan melihat sebuah kaca patri yang sangat indah. Selain itu, di dalamnya juga terdapat 324 kaca patri lain yang semuanya dibuat di Atelier Jan Schouten, Delft, Belanda, pada periode 1922 – 1935.Ada juga sebuah lukisan wanita dengan lambang Kota Batavia dan Surabaya dan beberapa lukisan unik dan antik lainnya. Di dalamnya juga terdapat ruangan teater dengan kapasitas tempat duduk untuk 40 orang. Teater tersebut memutar film yang berisi seputar sejarah perbankan dan peran Bank Indonesia.

4. Museum Seni Rupa dan Keramik

Museum Seni Rupa dan Keramik merupakan museum yang berada di dalam kawasan wisata Kota Tua Jakarta. Museum ini pertama kali   dibangun oleh seorang arsitek bernama Jhe. W.H.F.H. van Raders pada tahun 1870. Saat itu merupakan masa pemerintahan Gubernur Jenderal Pieter Miyer, dan gedung ini difungsikan sebagai Kantor Pengadilan. Menilik sejarah bangunan ini, pada 1949 pernah difungsikan sebagai sarana Nederlansche Mission Militer (NMM) oleh KNIL yang kemudian diserahkan kepada TNI sebagai gudang logistik. Di tahun 1970 – 1973, bangunan ini dialihfungsikan sebagai kantor Wali Kota Jakarta Barat, kemudian tahun 1974 digunakan sebagai kantor Dinas Museum dan Sejarah.         
Beberapa tahun setelahnya, tepatnya pada 20 Agustus 1976, gedung ini diresmikan menjadi Balai Seni Rupa oleh Presiden Soeharto atas inisiatif dari Adam Malik. Tanggal 10 Juni 1977, sebagian dari gedung ini diresmikan sebagai Museum Keramik oleh Gubernur Ali Sadikin. Barulah di awal tahun 1990, Balai Seni Rupa dan Museum keramik disatukan dan resmi menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik yang dikelola oleh Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta. Saat berkunjung ke sini, ada beberapa fasilitas yang bisa kamu temukan. Seperti Ruang Serbaguna, Workshop Keramik, dan Workshop Melukis. Selain itu, tempat ini merupakan sarana untuk memamerkan hasil karya dari para seniman Indonesia sejak kurun waktu 1800-an sampai sekarang.

5. Toko Merah Jakarta


Bangunan tersebut sekarang dikenal dengan nama Toko Merah. Dulu, bangunan ini merupakan sebuah toko yang dimiliki oleh warga Tionghoa. Wisatawan yang berkunjung kemari memang tak seramai di Museum Fatahillah dan museum lainnya. Tapi tempat ini tetap memiliki daya tariknya sendiri. Toko Merah dibangun pada tahun 1730 oleh Gustaaf Willem Baron van Imhoff dengan konsep sebuah rumah yang besar, megah, dan nyamanDi masa pendudukan Jepang, gedung ini dijadikan sebagai Gedung Dinas Kesehatan Tentara Jepang, Setelah kemerdekaan Indonesia, Toko Merah berpindah tangan ke pemilik PT Satya Niaga di tahun 1964. Kemudian pada 1977 berubah menjadi PT Dharma Niaga dan gedungnya tetap digunakan sebagai kantor. Baru di tahun 1990-an Toko Merak dijadikan Bangunan Cagar Budaya. Setelah lama terabaikan, tempat ini pun direstorasi pada tahun 2012 dan sekarang difungsikan sebagai gedung serba guna yang dapat difungsikan sebagai tempat konferensi dan pameran.