Thursday, March 29, 2018

BAB 1 Penelitian tata letak dan pelestarian budaya di kota tua


BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 SEJARAH KAWASAN KOTA TUA
            Kota Tua Jakarta terletak diantara dua kotamadya yaitu Jakarta Barat dan Jakarta Utara, tepatnya di Kelurahan Pinangsia Kecamatan Tamansari. Posisinya yang strategis membuatnya mudah disinggahi kala itu. Bahkan berbagai kerajaan turut memperebutkan kekuasaan di kawasan ini. Berikut ini adalah ulasan mengenai sejarah Kota Tua Jakarta dari masa ke masa. Kota Tua Jakarta adalah nama dari sebuah gedung yang tepatnya berada di Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Tamansari,

                          


 Perbatasan posisi lokasi zaman batavia antara lain :
·                     Sebelah Timur, berbatasan dengan Kali Ciliwung
·                     Sebelah Barat, berbatasan dengan Kali Krukut
·                     Sebelah Selatan, berbatasan dengan Jalan Jembatan Batu
·                     Sebelah utara, berbatasan dengan Pelabuhan Sunda Kelapa dan Laut Jawa

            Lokasi Kota Tua yang strategis tersebut akhirnya menimbulkan perebutan kekuasaan wilayah. Mulai dari Kerajaan Pajajaran, Kerajaan Tarumanegara, Kesultanan Banten, VOC, hingga Jepang dulu turut memperebutkannya. Kota Tua Jakarta dikenal pula dengan sebutan lamanya yaitu “Oud Batavia” atau Batavia lama. Seperti yang kita ketahui bahwa Batavia dulu juga merupakan nama untuk kota Jakarta sekarang. Wilayah Kota Tua yang luasnya sekitar 1,3 km2 ini dulunya sempat disebut sebagai “ Permata Asia” serta “Ratu Dari Timur’’. Wilayah ini merupakan pusat perdagangan yang sangat strategis di Asia   

            Saat ini Kota Tua Jakarta lebih dikenal sebagai bangunan kuno sebagai ikon ibu kota negara Indonesia. Berbagai kegiatan dilakukan di kawasan ini saat HUT kota Jakarta atau event bersejarah lainnya untuk mengenang perjuangan pada masa lalu. Biasanya yang seringkali ditampilkan adalah beberapa event pameran, pertunjukan seni yang memang didukung oleh arsitektur bangunan yang memiliki nilai artistik tersendiri ini. Berbagai pertunjukan yang sering diadakan di lokasi ini antara lain adalah sebagai berikut.

Kegiatan yang biasa diadakan pada wilayah kota tua diantaranya adalah
·                     Pameran Sejarah Jakarta
·                     Pameran Kebudayaan Betawi
·                     Pameran Lukisan dari seniman lokal Betawi
·                     Pagelaran Seni Lenong Khas Betawi
·                     Penghelatan Akbar untuk Mengenang Sejarah Kota Tua



            Satu tahun berlalu setelah kedatangan Jan Pieterszoon Coen, VOC membangun sebuah kota baru ditanah ini yang bernama Batavia untuk menghormati leluhur bangsa Belanda, Batavieren. Kota ini berpusat di tepian timur sungai Ciliwung yang saat ini menjadi Lapangan Fatahillah, penduduk Batavia dikenal dengan sebutan “Batavianen” atau etnis “Betawi” yang merupakan keturunan berbagai etnis yang tinggal di Batavia
.          


            Pada tahun 1653, kota ini meluas hingga mencapai tepi barat Sungai Ciliwung,reruntuhan bekas Jayakarta. Kota Batavia dirancang dengan segalanya bergaya Belanda Eropa, lengkap dengan Kasteel Batavia, kanal dan juga dinding kota. Kanal yang dibuat tersebut dimanfaatkan juga oleh pemerintahan masa itu untuk membatasi kota yang diatar dalam beberapa blok, yang hingga akhirnya kota Batavia selesai dibangun pada tahun 1650an.

            Tidak lama berselang, Batavia menjadi kantor pusat VOC pada saat itu dan meluas hingga ke selatan setelah epidemi (meningkatnya wabah penyakit dengan cepat)tahun 1835 dan 1870, yang membuat banyak orang keluar dari kota kecil itu menujuWeltevreden (sekarang Lapangan Merdeka), kemudian Batavia menjadi daerah pusat administratif Belanda.Pada tahun 1942, semasam penjajahan Jepang, Batavia berubah nama menjadiJakarta yang tetap difungsikan sebagai Ibu kota Indonesia, hingga saat ini. Sejarah kota tua dalam bahasa inggris lebih mudah dicari dengan sebutan “Oud Batavia” atau “Jakarta Old Town”.


 
1. Museum Fatahillah        
Pada masa penjajahan Belanda, gedung ini difungsikan sebagai balai kota yang pada waktu itu dikenal dengan nama Stadhius. Selain balai kota, pernah juga difungsikan sebagai pengadilan, kantor catatan sipil, tempat ibadah Minggu, dan tempat Dewan Kotapraja. Di tahun 1968, barulah gedung ini secara resmi diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta. Setelah itu gedung ini diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta pada tanggal 30 Maret 1974 oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin. Museum Fatahillah menyimpan sekitar 23.500 koleksi barang bersejarah berupa benda asli maupun hanya replika. Koleksi tersebut berasal dari Museum Jakarta Lama yang terletak di Jl. Pintu Besar Utara No. 27. Di museum ini, kamu bisa melihat beberapa koleksi seperti replika peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, hasil penggalian arkeologi di Kota Jakarta, furnitur-furnitur antik, koleksi keramik, gerabah, prasasti, dan deretan benda bersejarah lainnya. Selain itu, di dalam Museum Fatahillah juga terdapat penjara bawah tanah yang menjadi saksi bisu penderitaan dari para tawanan yang kondisinya sangat menyedihkan.
 
2. Pelabuhan Sunda Kelapa

Di tempat inilah awal mula kota Jakarta dikenal luas oleh dunia. Banyak orang asing yang datang ke Indonesia melalui Pelabuhan Sunda Kelapa. Sekitar abad ke 12, banyak pedagang dari Tiongkok yang berlayar ke sini dengan membawa barang kerajinan berupa keramik dan kain sutera untuk ditukarkan dengan rempah-rempah. Pedagang dari India dan Arab pun datang ke sini dengan membawa kain dan minyak wangi yang juga ditukarkan dengan rempah-rempah. Hubungan dagang dengan tiga negara ini berjalan baik sampai abad ke-16.Atas dasar inilah, Pelabuhan Sunda Kelapa berhasil mencetak sejarah emas. Pelabuhan ini menjadi pusat perdagangan yang sangat ramai dengan aktivitas jual beli antar negara. Saat ini aktivitas pelabuhan memang tak seramai dulu. Meskipun begitu, tempat ini masih digunakan dan beroperasi sebagai dermaga transportasi laut.

3. Museum Bank Indonesia 



Tempat ini awalnya merupakan sebuah rumah sakit bernama Binnen Hospital yang kemudian pada tahun 1828 dialihfungsikan menjadi bank dengan nama De Javashe Bank (DJB). Setelah kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada tahun 1953, bank ini dinasionalisasikan menjadi Bank Sentral Indonesia atau yang dikenal dengan nama Bank Indonesia.Namun, di tahun 1962, Bank Indonesia kemudian dipindah ke gedung baru. Gedung lama kemudian dilestarikan menjadi Museum Bank Indonesia yang diresmikan pada 15 Desember 2006.Saat berkunjung ke sini, kita akan mendapat pengetahuan tambahan mengenai sejarah terbentuknya bank sentral yang ada di negara kita ini.       


Ketika memasuki lobi museum, kita akan melihat sebuah kaca patri yang sangat indah. Selain itu, di dalamnya juga terdapat 324 kaca patri lain yang semuanya dibuat di Atelier Jan Schouten, Delft, Belanda, pada periode 1922 – 1935.Ada juga sebuah lukisan wanita dengan lambang Kota Batavia dan Surabaya dan beberapa lukisan unik dan antik lainnya. Di dalamnya juga terdapat ruangan teater dengan kapasitas tempat duduk untuk 40 orang. Teater tersebut memutar film yang berisi seputar sejarah perbankan dan peran Bank Indonesia.

4. Museum Seni Rupa dan Keramik

Museum Seni Rupa dan Keramik merupakan museum yang berada di dalam kawasan wisata Kota Tua Jakarta. Museum ini pertama kali   dibangun oleh seorang arsitek bernama Jhe. W.H.F.H. van Raders pada tahun 1870. Saat itu merupakan masa pemerintahan Gubernur Jenderal Pieter Miyer, dan gedung ini difungsikan sebagai Kantor Pengadilan. Menilik sejarah bangunan ini, pada 1949 pernah difungsikan sebagai sarana Nederlansche Mission Militer (NMM) oleh KNIL yang kemudian diserahkan kepada TNI sebagai gudang logistik. Di tahun 1970 – 1973, bangunan ini dialihfungsikan sebagai kantor Wali Kota Jakarta Barat, kemudian tahun 1974 digunakan sebagai kantor Dinas Museum dan Sejarah.         
Beberapa tahun setelahnya, tepatnya pada 20 Agustus 1976, gedung ini diresmikan menjadi Balai Seni Rupa oleh Presiden Soeharto atas inisiatif dari Adam Malik. Tanggal 10 Juni 1977, sebagian dari gedung ini diresmikan sebagai Museum Keramik oleh Gubernur Ali Sadikin. Barulah di awal tahun 1990, Balai Seni Rupa dan Museum keramik disatukan dan resmi menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik yang dikelola oleh Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta. Saat berkunjung ke sini, ada beberapa fasilitas yang bisa kamu temukan. Seperti Ruang Serbaguna, Workshop Keramik, dan Workshop Melukis. Selain itu, tempat ini merupakan sarana untuk memamerkan hasil karya dari para seniman Indonesia sejak kurun waktu 1800-an sampai sekarang.

5. Toko Merah Jakarta


Bangunan tersebut sekarang dikenal dengan nama Toko Merah. Dulu, bangunan ini merupakan sebuah toko yang dimiliki oleh warga Tionghoa. Wisatawan yang berkunjung kemari memang tak seramai di Museum Fatahillah dan museum lainnya. Tapi tempat ini tetap memiliki daya tariknya sendiri. Toko Merah dibangun pada tahun 1730 oleh Gustaaf Willem Baron van Imhoff dengan konsep sebuah rumah yang besar, megah, dan nyamanDi masa pendudukan Jepang, gedung ini dijadikan sebagai Gedung Dinas Kesehatan Tentara Jepang, Setelah kemerdekaan Indonesia, Toko Merah berpindah tangan ke pemilik PT Satya Niaga di tahun 1964. Kemudian pada 1977 berubah menjadi PT Dharma Niaga dan gedungnya tetap digunakan sebagai kantor. Baru di tahun 1990-an Toko Merak dijadikan Bangunan Cagar Budaya. Setelah lama terabaikan, tempat ini pun direstorasi pada tahun 2012 dan sekarang difungsikan sebagai gedung serba guna yang dapat difungsikan sebagai tempat konferensi dan pameran.