BAB
1 PENDAHULUAN
1.1 SEJARAH KAWASAN KOTA TUA
Kota
Tua Jakarta terletak diantara dua kotamadya yaitu Jakarta Barat dan Jakarta
Utara, tepatnya di Kelurahan Pinangsia Kecamatan Tamansari. Posisinya yang
strategis membuatnya mudah disinggahi kala itu. Bahkan berbagai kerajaan turut
memperebutkan kekuasaan di kawasan ini. Berikut ini adalah ulasan mengenai
sejarah Kota Tua Jakarta dari masa ke masa. Kota Tua Jakarta adalah nama dari
sebuah gedung yang tepatnya berada di Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Tamansari,
Perbatasan posisi lokasi zaman batavia antara lain :
·
Sebelah Timur, berbatasan dengan Kali
Ciliwung
·
Sebelah Barat, berbatasan dengan Kali Krukut
·
Sebelah
Selatan, berbatasan dengan Jalan Jembatan Batu
·
Sebelah
utara, berbatasan dengan Pelabuhan Sunda Kelapa dan Laut Jawa
Lokasi Kota Tua yang strategis tersebut akhirnya menimbulkan perebutan kekuasaan wilayah. Mulai dari Kerajaan Pajajaran, Kerajaan Tarumanegara, Kesultanan Banten, VOC, hingga Jepang dulu turut memperebutkannya. Kota Tua Jakarta dikenal pula dengan sebutan lamanya yaitu “Oud Batavia” atau Batavia lama. Seperti yang kita ketahui bahwa Batavia dulu juga merupakan nama untuk kota Jakarta sekarang. Wilayah Kota Tua yang luasnya sekitar 1,3 km2 ini dulunya sempat disebut sebagai “ Permata Asia” serta “Ratu Dari Timur’’. Wilayah ini merupakan pusat perdagangan yang sangat strategis di Asia
Saat ini Kota Tua Jakarta lebih dikenal sebagai bangunan kuno sebagai ikon ibu kota negara Indonesia. Berbagai kegiatan dilakukan di kawasan ini saat HUT kota Jakarta atau event bersejarah lainnya untuk mengenang perjuangan pada masa lalu. Biasanya yang seringkali ditampilkan adalah beberapa event pameran, pertunjukan seni yang memang didukung oleh arsitektur bangunan yang memiliki nilai artistik tersendiri ini. Berbagai pertunjukan yang sering diadakan di lokasi ini antara lain adalah sebagai berikut.
Lokasi Kota Tua yang strategis tersebut akhirnya menimbulkan perebutan kekuasaan wilayah. Mulai dari Kerajaan Pajajaran, Kerajaan Tarumanegara, Kesultanan Banten, VOC, hingga Jepang dulu turut memperebutkannya. Kota Tua Jakarta dikenal pula dengan sebutan lamanya yaitu “Oud Batavia” atau Batavia lama. Seperti yang kita ketahui bahwa Batavia dulu juga merupakan nama untuk kota Jakarta sekarang. Wilayah Kota Tua yang luasnya sekitar 1,3 km2 ini dulunya sempat disebut sebagai “ Permata Asia” serta “Ratu Dari Timur’’. Wilayah ini merupakan pusat perdagangan yang sangat strategis di Asia
Saat ini Kota Tua Jakarta lebih dikenal sebagai bangunan kuno sebagai ikon ibu kota negara Indonesia. Berbagai kegiatan dilakukan di kawasan ini saat HUT kota Jakarta atau event bersejarah lainnya untuk mengenang perjuangan pada masa lalu. Biasanya yang seringkali ditampilkan adalah beberapa event pameran, pertunjukan seni yang memang didukung oleh arsitektur bangunan yang memiliki nilai artistik tersendiri ini. Berbagai pertunjukan yang sering diadakan di lokasi ini antara lain adalah sebagai berikut.
Kegiatan yang biasa diadakan pada wilayah kota tua diantaranya adalah
·
Pameran Sejarah Jakarta
·
Pameran Kebudayaan Betawi
·
Pameran Lukisan dari seniman lokal
Betawi
·
Pagelaran Seni Lenong Khas Betawi
·
Penghelatan Akbar untuk Mengenang
Sejarah Kota Tua
Satu tahun berlalu setelah kedatangan Jan Pieterszoon Coen, VOC membangun sebuah kota baru ditanah ini yang bernama Batavia untuk menghormati leluhur bangsa Belanda, Batavieren. Kota ini berpusat di tepian timur sungai Ciliwung yang saat ini menjadi Lapangan Fatahillah, penduduk Batavia dikenal dengan sebutan “Batavianen” atau etnis “Betawi” yang merupakan keturunan berbagai etnis yang tinggal di Batavia.
Pada
tahun 1653, kota ini meluas hingga mencapai tepi barat Sungai Ciliwung,reruntuhan
bekas Jayakarta. Kota Batavia dirancang dengan segalanya bergaya Belanda Eropa,
lengkap dengan Kasteel Batavia, kanal dan juga dinding kota. Kanal yang dibuat
tersebut dimanfaatkan juga oleh pemerintahan masa itu untuk membatasi kota yang
diatar dalam beberapa blok, yang hingga akhirnya kota Batavia selesai dibangun
pada tahun 1650an.
Tidak lama berselang, Batavia menjadi kantor pusat VOC pada saat itu dan meluas hingga ke selatan setelah epidemi (meningkatnya wabah penyakit dengan cepat)tahun 1835 dan 1870, yang membuat banyak orang keluar dari kota kecil itu menujuWeltevreden (sekarang Lapangan Merdeka), kemudian Batavia menjadi daerah pusat administratif Belanda.Pada tahun 1942, semasam penjajahan Jepang, Batavia berubah nama menjadiJakarta yang tetap difungsikan sebagai Ibu kota Indonesia, hingga saat ini. Sejarah kota tua dalam bahasa inggris lebih mudah dicari dengan sebutan “Oud Batavia” atau “Jakarta Old Town”.
Tidak lama berselang, Batavia menjadi kantor pusat VOC pada saat itu dan meluas hingga ke selatan setelah epidemi (meningkatnya wabah penyakit dengan cepat)tahun 1835 dan 1870, yang membuat banyak orang keluar dari kota kecil itu menujuWeltevreden (sekarang Lapangan Merdeka), kemudian Batavia menjadi daerah pusat administratif Belanda.Pada tahun 1942, semasam penjajahan Jepang, Batavia berubah nama menjadiJakarta yang tetap difungsikan sebagai Ibu kota Indonesia, hingga saat ini. Sejarah kota tua dalam bahasa inggris lebih mudah dicari dengan sebutan “Oud Batavia” atau “Jakarta Old Town”.
Pada
masa penjajahan Belanda, gedung ini difungsikan sebagai balai kota yang pada
waktu itu dikenal dengan nama Stadhius. Selain balai kota, pernah juga
difungsikan sebagai pengadilan, kantor catatan sipil, tempat ibadah Minggu, dan
tempat Dewan Kotapraja. Di
tahun 1968, barulah gedung ini secara resmi diserahkan kepada Pemda DKI
Jakarta. Setelah itu gedung ini diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta pada
tanggal 30 Maret 1974 oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin.
Museum Fatahillah menyimpan sekitar
23.500 koleksi barang bersejarah berupa benda asli maupun hanya replika.
Koleksi tersebut berasal dari Museum Jakarta Lama yang terletak di Jl. Pintu
Besar Utara No. 27. Di museum ini, kamu bisa melihat beberapa koleksi seperti
replika peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, hasil penggalian arkeologi
di Kota Jakarta, furnitur-furnitur antik, koleksi keramik, gerabah, prasasti,
dan deretan benda bersejarah lainnya. Selain itu, di dalam Museum
Fatahillah juga terdapat penjara bawah tanah yang menjadi saksi bisu
penderitaan dari para tawanan yang kondisinya sangat menyedihkan.
2. Pelabuhan Sunda Kelapa
Di tempat inilah awal
mula kota Jakarta dikenal luas oleh dunia. Banyak orang asing yang datang ke Indonesia melalui
Pelabuhan Sunda Kelapa. Sekitar abad ke 12, banyak pedagang dari Tiongkok yang
berlayar ke sini dengan membawa barang kerajinan berupa keramik dan kain sutera
untuk ditukarkan dengan rempah-rempah. Pedagang dari India dan Arab pun datang
ke sini dengan membawa kain dan minyak wangi yang juga ditukarkan dengan
rempah-rempah. Hubungan dagang dengan tiga negara ini berjalan baik sampai abad
ke-16.Atas dasar inilah, Pelabuhan Sunda Kelapa berhasil mencetak sejarah emas.
Pelabuhan ini menjadi pusat perdagangan yang sangat ramai dengan aktivitas jual
beli antar negara. Saat ini aktivitas pelabuhan memang tak seramai dulu.
Meskipun begitu, tempat ini masih digunakan dan beroperasi sebagai dermaga
transportasi laut.
3. Museum Bank Indonesia
Tempat
ini awalnya merupakan sebuah rumah sakit bernama Binnen Hospital yang kemudian
pada tahun 1828 dialihfungsikan menjadi bank dengan nama De Javashe Bank (DJB).
Setelah kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada tahun 1953, bank ini
dinasionalisasikan menjadi Bank Sentral Indonesia atau yang dikenal dengan nama
Bank Indonesia.Namun, di tahun 1962, Bank Indonesia kemudian dipindah ke gedung
baru. Gedung lama kemudian dilestarikan menjadi Museum Bank Indonesia yang
diresmikan pada 15 Desember 2006.Saat berkunjung ke sini, kita akan mendapat
pengetahuan tambahan mengenai sejarah terbentuknya bank sentral yang ada di
negara kita ini.
Ketika memasuki lobi museum, kita
akan melihat sebuah kaca patri yang sangat indah. Selain itu, di dalamnya juga
terdapat 324 kaca patri lain yang semuanya dibuat di Atelier Jan Schouten,
Delft, Belanda, pada periode 1922 – 1935.Ada juga sebuah lukisan wanita dengan
lambang Kota Batavia dan Surabaya dan
beberapa lukisan unik dan antik lainnya. Di dalamnya juga terdapat ruangan
teater dengan kapasitas tempat duduk untuk 40 orang. Teater tersebut memutar
film yang berisi seputar sejarah perbankan dan peran Bank Indonesia.
4. Museum Seni Rupa dan
Keramik
Museum
Seni Rupa dan Keramik merupakan museum yang berada di dalam kawasan wisata Kota
Tua Jakarta. Museum ini pertama kali dibangun oleh seorang arsitek bernama Jhe. W.H.F.H. van Raders pada tahun 1870. Saat itu merupakan masa pemerintahan
Gubernur Jenderal Pieter Miyer, dan gedung ini difungsikan sebagai Kantor
Pengadilan. Menilik sejarah bangunan ini, pada 1949 pernah difungsikan sebagai
sarana Nederlansche Mission Militer (NMM) oleh KNIL yang kemudian diserahkan
kepada TNI sebagai gudang logistik. Di tahun 1970 – 1973, bangunan ini
dialihfungsikan sebagai kantor Wali Kota Jakarta Barat, kemudian tahun 1974
digunakan sebagai kantor Dinas Museum dan Sejarah.
Beberapa tahun setelahnya, tepatnya pada 20 Agustus 1976, gedung ini diresmikan menjadi Balai Seni Rupa oleh Presiden Soeharto atas inisiatif dari Adam Malik. Tanggal 10 Juni 1977, sebagian dari gedung ini diresmikan sebagai Museum Keramik oleh Gubernur Ali Sadikin. Barulah di awal tahun 1990, Balai Seni Rupa dan Museum keramik disatukan dan resmi menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik yang dikelola oleh Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta. Saat berkunjung ke sini, ada beberapa fasilitas yang bisa kamu temukan. Seperti Ruang Serbaguna, Workshop Keramik, dan Workshop Melukis. Selain itu, tempat ini merupakan sarana untuk memamerkan hasil karya dari para seniman Indonesia sejak kurun waktu 1800-an sampai sekarang.
Beberapa tahun setelahnya, tepatnya pada 20 Agustus 1976, gedung ini diresmikan menjadi Balai Seni Rupa oleh Presiden Soeharto atas inisiatif dari Adam Malik. Tanggal 10 Juni 1977, sebagian dari gedung ini diresmikan sebagai Museum Keramik oleh Gubernur Ali Sadikin. Barulah di awal tahun 1990, Balai Seni Rupa dan Museum keramik disatukan dan resmi menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik yang dikelola oleh Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta. Saat berkunjung ke sini, ada beberapa fasilitas yang bisa kamu temukan. Seperti Ruang Serbaguna, Workshop Keramik, dan Workshop Melukis. Selain itu, tempat ini merupakan sarana untuk memamerkan hasil karya dari para seniman Indonesia sejak kurun waktu 1800-an sampai sekarang.
5. Toko Merah Jakarta

Bangunan tersebut sekarang dikenal dengan nama Toko Merah. Dulu, bangunan ini merupakan sebuah toko yang dimiliki oleh warga Tionghoa. Wisatawan yang berkunjung kemari memang tak seramai di Museum Fatahillah dan museum lainnya. Tapi tempat ini tetap memiliki daya tariknya sendiri. Toko Merah dibangun pada tahun 1730 oleh Gustaaf Willem Baron van Imhoff dengan konsep sebuah rumah yang besar, megah, dan nyamanDi masa pendudukan Jepang, gedung ini dijadikan sebagai Gedung Dinas Kesehatan Tentara Jepang, Setelah kemerdekaan Indonesia, Toko Merah berpindah tangan ke pemilik PT Satya Niaga di tahun 1964. Kemudian pada 1977 berubah menjadi PT Dharma Niaga dan gedungnya tetap digunakan sebagai kantor. Baru di tahun 1990-an Toko Merak dijadikan Bangunan Cagar Budaya. Setelah lama terabaikan, tempat ini pun direstorasi pada tahun 2012 dan sekarang difungsikan sebagai gedung serba guna yang dapat difungsikan sebagai tempat konferensi dan pameran.





